RANCANG BANGUN SENSOR NODE PADA WIRELESS SENSOR NETWORK UNTUK MENDETEKSI KEBAKARAN DI LINGKUNGAN PERUMAHAN

Rima Riyanti* -  Universitas Singaperbangsa Karawang, Indonesia

DOI : 10.24269/mtkind.v14i2.3060

ABSTRAK

 

Kebakaran merupakan bencana yang tidak dapat diprediksi dan dapat terjadi kapan saja. Ketika kebakaran terjadi, sebelum satuan pemadam kebakaran tiba di lokasi kejadian, biasanya upaya pemadaman dilakukan oleh warga setempat dengan peralatan seadanya. Untuk meminimalisir terjadi dan menyebarluasnya kebakaran, maka dibuatlah sebuah Wireless Sensor Network sebagai Pendeteksi Kebakaran. Penelitian ini berfokus pada node sensor untuk mengimplementasikan WSN. Penelitian ini menunjukkan pengimplementasian sensor api KY-026 sebagai pendeteksi api, sensor gas MQ-7 sebagai pendeteksi asap, dan sensor suhu DHT22 sebagai pendeteksi suhu udara. Hasil akhir dari penelitian ini adalah setiap sensor memiliki karakteristik yang berbeda. Sensor suhu DHT22 bersifat linear, memiliki nilai sensitivitas 3,9855, dan repetabilitas sebesar 99,11%. Perbandingan nilai suhu antara nilai yang terukur pada sensor dengan alat standar tipe HTC-2 memiliki error sebesar 0,26%. Pada sensor gas, nilai sensitivitas yang dihasilkan ketika kondisi tidak ada asap yaitu 0,01 dan kondisi ada asap yaitu 0,002. Nilai repetabilitas ketika tidak ada asap yaitu 58,4% dan kondisi ada asap yaitu 79,8%. Pada sensor api, nilai sensitivitas yang dihasilkan dari sumber api balok kayu yaitu 0,0029 dan sumber api lilin yaitu 0,0567. Nilai repetabilitas yang dihasilkan sumber api balok kayu yaitu 90,5% dan sumber api lilin yaitu 85,1%.

 

 

ABSTRACT

 

 

Fire is a disaster that cannot be predicted and can happen at any time. When fires occur, before the fire department arrives at the scene, usually a fire suppression attempt is made by local residents with makeshift equipment. To minimize the occurrence and spread of fires, acreated Wireless Sensor Network was as a Fire Detection. This research focuses on instrumentation systems to implement WSN. This research shows the implementation of the KY-026 fire sensor as a fire detector, the MQ-7 gas sensor as a smoke detector, and the DHT22 temperature sensor as a temperature detector. The result of this research is that each sensor has different characteristics. DHT22 temperature sensor is linear, has a sensitivity value of 3,9855, and repeatability of 99,11%. Comparison of the temperature value between the measured value on the sensor with the standard type HTC-2 device has an error of 0,26%. In the gas sensor, the sensitivity value that is produced when the condition is no smoke is 0,01 and the condition of the smoke is 0,002. The value of repeatability when the condition is no smoke is 58,4% and the condition of smoke is 79,8%. In the fire sensor, the sensitivity value generated from the wood beam fire source is 0,0029 and the candle fire source is 0,0567. The value of repeatability produced by wood beam fire sources is 90,5% and the candle fire source is 85,1%.

Keywords
Sensor; Temperature; Fire; Gas
  1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. 2007.
  2. H. Sufianto and A. R. Green, “Urban Fire Situation in Indonesia,” Fire Technol., vol. 48, no. 2, pp. 367–387, 2012, doi: 10.1007/s10694-011-0226-9.
  3. D. P. K. dan P. P. D. Jakarta, “Jumlah Kejadian Kebakaran.” https://www.jakartafire.net/.
  4. M. Kali, J. Tarigan, and A. Louk, “Sistem Alarm Kebakaran Menggunakan Sensor Infra Red dan Sensor Suhu Berbasis Arduino Uno,” J. Fis., vol. 1, no. 1, pp. 25–31, 2016.
  5. R. Rahim, T. Martosenjoyo, S. Amin, and R. Hiromi, “Karakteristik Data Temperatur Udara dan Kenyamanan Termal di Makasar,” pp. 75–78, 2016.
  6. C. O. Dan, L. Industri, E. Nebath, D. Pang, and J. O. Wuwung, “Rancang Bangun Alat Pengukur Gas Berbahaya Co Dan Co2 Di Lingkungan Industri,” J. Tek. Elektro dan Komput., vol. 3, no. 4, pp. 65–72, 2014, doi: 10.35793/jtek.3.4.2014.6012.
  7. D. S. P. Sirait, D. Darlis, and I. H. Santoso, “Implementasi Sensor Wireless Sebagai Monitoring Serta Pendeteksi Indikator Kebakaran Hutan,” e-Proceeding Eng. Telkom Univ., vol. 3, no. 2, p. 1576, 2016.
  8. M. Misfaul, M. Dana, W. Kurniawan, and H. Fitriyah, “Rancang Bangun Sistem Deteksi Titik Kebakaran Dengan Metode Naive Bayes Menggunakan Sensor Suhu dan Sensor Api Berbasis Arduino,” J. Pengemb. Teknol. Inf. dan Ilmu Komput. Univ. Brawijaya, vol. 2, no. 9, pp. 3384–3390, 2018.
  9. J. Fraden, Handbook of Modern Sensors. 2016.
  10. A. H. Saptadi, “Perbandingan Akurasi Pengukuran Suhu dan Kelembaban Antara Sensor DHT11 dan DHT22 Studi Komparatif pada Platform ATMEL AVR dan Arduino,” J. Inform. dan Elektron., vol. 6, no. 2, 2015, doi: 10.20895/infotel.v6i2.73.
  11. A. M. Firdaus, D. Syauqy, and R. Maulana, “Sistem Deteksi Titik Kebakaran dengan Algoritme K-Nearest Neighbor ( KNN ) menggunakan Sensor Suhu dan Sensor Api,” vol. 3, no. 9, pp. 8656–8663, 2019.

Full Text:
Article Info
Submitted: 2020-09-28
Published: 2021-01-01
Section: Artikel
Article Statistics: 573 434
Citation :